Makna Filosofis dari Lagu Gundul Gundul Pacul

Kamis, 24 Desember 2015
Makna Filosofis dari Lagu Gundul Gundul Pacul
img-1450923459.jpg

Ternyata lagu Gundul Gundul Pacul yang sering didengarkan pada permainan anak anak ini memiliki makna filosofi sederhana yang ditujukan untuk seorang pemimpin. Tembang jawa ini konon diciptakan pada tahun 1400-an Masehi, oleh Sunan Kali Jaga dan teman-temannya yang masih remaja dan memiliki makna filosofis yang dalam dan sangat mulia.

Gundul gundul pacul-cul, gembelengan.
Nyunggi nyunggi wakul-kul, gembelengan.
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar....

Gundul adalah kepala plonthos tanpa rambut. Kepala adalah adalah lambang kehormatan dan kemuliaan seseorang. Rambut adalah mahkota lambang keindahan kepala. Maka gundul adalah kehormatan yang tanpa mahkota.

Pacul adalah cangkul yaitu alat yang digunakan oleh petani yang terbuat dari lempeng besi segi empat. Pacul adalah lambang kawula rendah yang kebanyakan adalah petani.

Gundul pacul artinya seorang pemimpin sesungguhnya bukanlah orang yang diberi mahkota, melainkan dia adalah pembawa pacul untuk mencangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Orang jawa mengatakan pacul adalah papat kang ucul (empat yang lepas). Artinya bahwa kemuliaan seseorang akan sangat tergantung 4 hal, yaitu : bagaimana menggunakan mata, hidung, telinga, dan mulutnya.

1. Mata digunakan untuk melihat kesulitan rakyat.
2. Telinga digunakan untuk mendengarkan nasihat. 
3. Hidung digunakan untuk mencium wewangian kebaikan.
4. Mulut digunakan untuk berkata-kata yang adil.

Jika empat hal itu lepas, maka lepaslah kehormatannya.

Gundul gundul pacul-cul artinya orang yang dikepalanya sudah kehilangan empat indera diatas, dan sikapnya berubah menjadi gembelengan (congkak).

Gembelengan artinya besar kepala, sombong dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya.

Nyunggi nyunggi wakul-kul, gembelengan artinya menjunjung amanah rakyat sambil sombong hati.

Wakul ngglimpang segane dadi sak latar artinya amanah jatuh gak bisa dipertahankan, berantakan sia-sia, tak bisa bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat.


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar